Jumat, 20 Oktober 2017
MY FANFICTION 2
Only you part 2
Cast : jeon jungkook
Ahn nara
Genre : romance, hurt
[Nara pov]
"Kenapa tiba-tiba begini? Kenapa jungkook mengatakan hal itu kepadaku? Apa dia bersungguh-sungguh mengatakannya? Kenapa aku jadi dilema seperti ini? Aaahhh... Jeon jungkook, apa yang kau lakukan kepadaku? Kenapa aku terus memikirkan ungkapan perasaan jungkook kepadaku? Sepertinya ada yang salah denganku" semua pertanyaan itu terus berkecamuk didalam pikiranku.
Karna aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar saat itu. Tapi kenapa aku merasa bahwa jungkook tulus mengatakannya. Benar-benar tulus sampai aku bisa merasakan ketulusannya. Lalu bagaimana jika besok
jungkook menanyakan soal ungkapan perasaannya.
"Aiish.. Jinjja, eottheoke" karna bingung, sampai kuacak-acak rambutku hingga berantakan.
Agar aku bisa menemukan jawaban untuk semua ini. Aku
terus memikirkannya sampai aku tidak bisa tidur.
"Aahh... Aku bisa gila kalau seperti ini" aku merengek seperti anak kecil yang ingin dibelikan permen.
Lalu bagaimana lagi, aku begitu bingung. Tapi jika dipikir-pikir, apakah jungkook juga memikirkan hal yang sama? Aku merasa jungkook pasti sedang tidur nyenyak sekarang. Sedangkan aku sibuk memikirkan hal gila ini sendirian.
"Huh... Kenapa aku jadi sefrustasi ini? Padahal sebelumnya aku tidak pernah begini. Aahh.... Paboya" aku jadi seperti gadis bodoh yang sibuk memikirkan hal yang belum tentu dipikirkan oleh namja itu.
Karna memikirkan hal ini, aku merasa lelah. Kemudian aku mencoba untuk tidur, walaupun aku tidak bisa tidur. Tapi besok, aku kan sekolah, jadi aku harus tetap tidur bagaimana pun caranya. Semalaman aku kesulitan untuk tidur, semuanya tidak mau pergi dari pikiranku. Sudah dipastikan mataku akan jadi mata panda besok.
Keesokan harinya, aku merasa mengantuk. Aku jadi malas kesekolah, rasanya ingin tidur saja. Tapi tiba-tiba ponselku berbunyi, ternyata ada pesan.
"Omo" aku sangat terkejut ketika melihat nama si pengirim pesan.
"Hari ini kau harus kesekolah, kau tidak boleh bolos, apapun alasannya. Arasseo!" itulah isi pesannya. Membuat ku frustasi lagi.
"Aahhh.... Jeon jungkook, kenapa kau tidak bisa memberikanku kesempatan untuk bebas darimu, huh..."
Sepertinya tidak ada pilihan lain, aku harus pergi ke sekolah.
'Padahal aku tidak ingin bertemu dengannya' rengekku dalam batin.
Akhirnya mau tidak mau, aku haru pergi. Aku terus memikirkannya sampai ke sekolah. Aku begitu khawatir. Apa yang aku katakan kepadanya nanti? Ini semua hampir membuatku gila.
"Tenang ahn nara, semua akan baik-baik saja" aku terus menenangkan diri sebelum bertemu dengan jungkook nanti
"Ahn nara, gwaenchana?"
"Ani, aku sedang tidak baik-baik saja" jawabku gelisah
"Wae? Ada masalah?"
"Ne, semua ini karna jung-" aku sangat terkejut, ketika mendapati sosok namja yang sedang aku bicarakan ternyata sudah ada disebelahku. Bahkan sejak tadi aku sudah bicara dengannya.
"Wae? Huh? Ayo lanjutkan!"
"Aaahhh..... Maksudku jung.. Jung ah, ne jung ah. Aku kesal dengannya" jawabku gugup
"Jung ah? Setahuku kau tidak punya teman yang bernama jung ah, bahkan aku kan mengenal semua temanmu" tanyanya penuh curiga
"Jung ah adalah nama peran dari drama korea yang semalam aku lihat" aku sampai kehabisan kata-kata karnanya
"Oohhh... Seharusnya kau tidak terbawa perasaan seperti itu. Lagipula itu kan drama, jadi jangan terbawa emosi begitu"
'Sebenarnya bukan jung ah, tapi kau JUNGKOOK, kau' gerutuku dalam hati
"Ya sudah, ayo masuk kelas bersama" ajaknya
"Ani, aku bisa masuk sendiri" jawabku sedikit ketus
"Kajja" seenaknya saja menarikku seperti ini. Aku kan manusia bukan anak kucing. Menyebalkan sekali.
[Nara pov end]
'Baguslah dia masuk hari ini, aku pikir dia akan membolos setelah kejadian kemarin' batinku
Sepertinya nara sekarang lebih penurut dari biasanya, ya... Tentu saja begitu. Dia kan sudah tau jika aku menyukainya. Tapi apakah dia juga menyukaiku? Aaahhh... Mollayo. Apa peduliku soal itu? Tapi jika dipikir-pikir pasti menyenangkan, jika aku menanyakan soal perasaannya kepadaku. Wajahnya pasti memerah, dan itu pasti lucu.
"Hei.... Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu? Aaahhhh... Pasti kau memikirkan hal yang aneh-aneh ya, dasar mesum" aku langsung tersadar karna kata-katanya.
"Yak... Mwoya? Apa pedulimu soal yang aku pikirkan, huh....!"
"Aahhh... Terserah kau saja, aku selalu kalah darimu" jawabnya menyerah
"Kau memang selalu kalah dariku, tapi kau selalu menang dihatiku" ku lemparkan sebuah senyuman kecil kepadanya. Dan dia langsung salah tingkah. Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak melihatnya.
Tiba-tiba dia berjalan cepat mendahuluiku, sepertinya nara tidak mampu menutupi wajahnya yang memerah. Dengan cepat aku menyusulnya, dan berusaha menyamai langkah kakinya.
"Sana jauh-jauh, aku mau masuk kelas sendiri tidak mau bersama denganmu" dia sedikit mendorong ku hingga membuat jarak denganku. Tapi rasanya menyenangkan jika aku terus menggodanya seperti ini. Bahkan saat dia salah tingkah, itu terlihat manis. Aku terus menggodanya sampai tidak terasa kalau kami sudah berada didepan kelas. Nara langsung masuk duluan meninggalkanku yang masih berjalan santai dibelakangnya.
Baru aku akan masuk kelas, tiba-tiba nara berhenti tepat di ambang pintu. Aku langsung melihat sekitar. Ternyata para pemghuni kelas ini mulai lagi. Mereka kembali membicarakan aku dan nara. Nara pasti merasa tidak nyaman lagi, sebaiknya aku akhirri saja sekarang.
"Yak... Kenapa kalian terus menatap kami dan membicarakan kami, huh.... Apa tidak ada topik yang lain? Jika tidak ada, pasti menyenangkan sekali jika satu persatu dati kalian menjadi topik pembicaraan satu sekolah. Dan topiknya pasti akan sangat memanas sampai kalian tidak bisa mendinginkannya" kataku dengan nada penuh ancaman.
Dan akhirnya selesai juga, tidak sulit untuk membuat mereka diam. Mereka hanyalah pecundang bermuka dua. Aku langsung menarik tangan nara agar ia dapat segera duduk. Setelah apa yang terjadi barusan, nara terus saja diam. Tidak biasanya dia tidak melawan seperti sekarang. Biasanya dia akan memprotes atau memberontak kepada siapapun yang mengganggunya atau mengusik kenyamanannya. Kenapa dia terlihat berbeda hari ini. Ku ambil ponselku dan ku kirimkan satu pesan kepadanya.
"Gwaenchana?"
"Ne, gomawo" balasnya singkat.
[Author pov]
Jungkook semakin dibuat bingung oleh nara, sikap nara jadi berubah 180° dari biasanya. Kali ini dia jadi lebih tenang sekarang. Bahkan sampai pulang sekolah pun, sikap nara tetap sama. Jungkook langsung menemui nara dirumahnya, untuk memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Jungkook sangat khawatir kepada nara. Setibanya jungkook dirumah nara, tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Jungkook mencoba membuka pembicaraan, tapi ia tidak akan basi-basi. Dia akan langsung pada poin pembicaraannya.
"Ahn nara"
"Huh... Ne" jawab nara lirih
"Waeyo? Apa semua baik-baik saja?" tanya jungkook heran
"Ne, kenapa kau datang? Apa ada sesuatu?"
"Aku mengkhatirkanmu, hari ini kau terlihat berbeda dari biasanya. Apa karna ucapanku dikelas tadi?" jungkook begitu penasaran hingga ia terus saja mengerutkan keningnya.
"Aniya, ini tidak ada kaitannya dengan itu. Lagipula kenapa kau harus khawatir, saat ini aku baik-baik saja. Hanya sedang teringat sesuatu" jawab nara lesu
"Katakan padaku, kau teringat tentang apa, soal apa? Cepat katakan padaku"
[Flashback on]
[Nara pov]
Hari ini aku tepat berumur 17th, aku tidak sabar akan merayakan sweet seventeen bersama orang tuaku. Aku penasaran hadiah apa yang akan aku dapatkan kali ini.
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa mereka belum juga datang. Kenapa lama sekali, aahh... Mungkin mereka sedang dalam perjalanan. Cukup lama aku menunggu mereka, bagaimana bisa mereka terlambat seperti ini. Jika terlambat seharusnya hanya 5 sampai 10 menit saja. Tapi ini kenapa sampai 3 jam begini"
Aku mulai khawatir dengan orang tuaku, karna tidak biasanya mereka seterlambat ini. Bahkan dihari ulang tahunku. Aku segera meraih ponselku, dan menghubungi orangtuaku. Namun hasilnya nihil. Tidak jawaban, membuatku semakin cemas. Kupandangi halaman rumahku, tapi tidak ada mobil mereka yang datang. Kekhawatirtanku semakin tinggi, aku merasa ada yang tidak beres, 1 jam setelah aku menelfon mereka. Tiba-tiba ada telfon, namun aku tidak mengenal no.nya, dengan segera aku mengangkat telfon itu.
"Yeoboseyo, apakah ini nona ahn nara putri dari tuan ahn yeo suk dan nyonya park myeong ah" suara itu sangat asing bagiku
"Ne, aku ahn nara. Mworago?" tanyaku bingung
"Orangtua anda mengalami kecelakaan, dan sekarang berada dirumah sakit. Bisakah anda kemari sekarang?" aku sangat terkejut hingga kehabisan kata-kata. Mendengar semua itu membuat tubuhku lemas.
Tanpa pikir panjang, aku segera pergi kerumah sakit. Aku harus pergi kesana bagimanapun caranya. Sesampainya disana, aku langsung mencari keberadaan orangtuaku. Dan saat aku menemukannya, ternyata jasad ibuku baru saja keluar dari ruanvan gawat darurat. Tubuhku kaku seketika melihat ibuku yang berbaring tidak bernyawa. Air mataku menetes begitu saja, hingga membasahi pipiku.
"Eommaaa...." teriakku penuh kesedihan
"Eommaaa.... Hiks... Hikss... A-apa yang terjadi?" aku sudah tidak kuat menahan isak tangisku. Hingga aku hampir pingsan, beberapa perawat langsung memegangiku, menahan tubuhku yang mulai lemas selemas-lemasnya.
"Kau harus sabar, tuan ahn ada didalam. Keadaannya sangat kritis" perkataan salah satu dokter ini membuatku tersadar, dan aku segera masuk kedalam ruang perawatan.
Didalam pikiranku saat ini adalah keadaan appa ku.
Ketika aku masuk keruangan itu, jantung appa berhenti berdetak. Aku tertunduk lemas, aku begitu hancur. Dihari ulang tahunku yang seharusnya menggembirakan jadi menyedihkan seperti ini. Kehilangan orang yang paling berharga, paling aku cintai dalam hidupku. Pergi secara bersamaan meninggalkanku. Aku sampai tidak bisa menahan diri. Tangisku pecah seketika, tangis histerisku memenuhi ruangan itu. Dan kemudian tubuhku semakin lemas dan pandanganku mulai gelap. Namun aku masih mendengar suara para perawat yang sibuk membopongku.
Tiba-tiba orangtuaku berada didalam mimpiku. Terlihat dimimpiku bahwa orangtuaku sedang mengendarai mobil dan lewat kaca mobilnya, mereka tengah melambaikan tangan kepadaku yang sedang berdiri dipinggir jalan. Mereka juga mengatakan "saengil chukaehamnida" kepadaku. Kemudian terjadi tabrakan, dan semua orang datang untuk menolong mereka. Aku sangat terkejut, dan berteriak memanggil mereka.
"Appaa.... Eommaaa...." aku terbangun dan langsung beranjak keluar untuk mencari orangtuaku.
Namun seseorang telah menghentikanku, seorang namja yang tidak aku kenal tiba-tiba menghentikan langkahku. Keadaannya bahkan terlihat buruk, dia seperti telah mengalami kecelakaan, itu terlihat pada lengan dan dahinya terdapat luka yang belum diobati. Dia terus menatapku seperti akan mengatakan sesuatu.
"Hei, nuguseyo?" tanyaku bingung
"Mian, mian" tiba-tiba namja ini meneteskan air matanya. Membuatku mengkerutkan keningku, karna bingung.
"Waeyo? Aku sedang buru-buru. Nyawa orangtuaku sedang dalam bahaya, aku harus segera menyelamatkan mereka. Jadi tolong bicaralah dengan jelas dan cepat"
Tiba-tiba dia menarikku kedalam pelukannya, dia juga menangis. Aku mencoba menenangkannya.
"Mianhae, hiks... Karnaku hiks... Kau kehilangan orangtuamu hiks... Hiks... Sekali lagi, maafkan aku" karna ucapannya baru saja membuatku tersadar akan apa yang terjadi sebelum aku bertemu dengan namja ini.
[Nara pov end]
Setelah yeoja ini mendengarkanku, dia langsung mendorong tubuhku. Itu wajar saja, yeoja ini pasti sangat marah kepadaku. Dapat dipastikan aku tidak akan dimaafkan.
"Mwo? Apa yang kau katakan barusan, huh...." katanya sambil menarik jaketku. Dan kemudian satu tamparan keras berhasil mendarat tepat dipipiku.
Untuk saat ini, aku akan menerima semuanya. Karna aku akui semua ini karnaku. Seharusnya aku tidak main kebut-kebuttan. Seharusnya aku lebih berhati-hati dengan mobil baruku itu. Kalau sudah seperti ini, aku sudah membuat seorang gadis kehilangan orangtuanya. Ini pasti sangat menyakitkan baginya. Bahkan ia tidak berhenti menangis, tangis histerisnya membuatku terus merasa bersalah. Aku mencoba menenangkannya, namun ia terus menepis tanganku dan mendorongku untuk menjauh darinya
"Dasar pembunuh.... Hiks... Aku membencimu... Hiks... Hiks....."
"Aku akui semua ini kesalahanku, aku tahu maaf tidak akan membantu. Tapi aku berjanji, aku akan menanggung segala kebutuhan hidupmu"
"Mwo? Apa kau bisa mengembalikan hidupku seperti semula? Huh! Kau pikir, kau ini siapa, aku tidak butuh semua itu. Enyahlah..." teriaknya kepadaku membuatku bingung untuk menjawabnya.
Aku tahu, aku sudah merenggut kebahagiaan yeoja ini, kejadian ini adalah penyesalan yang terdalam dan terbesar dalam hidupku. Bagaimana tidak, pasti seumur hidupnya. Dia akan membenciku dan menyebutku pembunuh.
Hingga setahun terlewatti, sikapnya tidak pernah ramah kepadaku. Walaupun aku mencoba membuatnya mengerti. Sikapnya semakin keras bahkan hampir mirip laki-laki. Itu pasti terjadi, bagaimana bisa anak korban kecelakaan akan memaafkan penyebab kecelakaan orangtuanya.
[Flashback off]
[Nara pov]
"Hari ini aku berulang tahun, tapi sudah kujadikan hari kematian orangtuaku. Sebenarnya, hari dimana orangtuaku mengalami kecelakaan dan meninggal, hari itu aku sedang menunggu orangtuaku pulang memberi kejutan untukku. Dan seharusnya hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagiku. Karna umurku tepat 17 thn, tapi takdir justru telah mengubah semuanya. Aku kehilangan orangtuaku dan bertemu denganmu. Mungkin kau sudah ditakdirkan untuk mengisi kekosongan hidupku. Ini sudah satu tahun dan umurku juga bertambah satu tahun. Entah aku harus bahagia atau bersedih. Mollayo" kataku sambil meneteskan air mata
"Menangislah jika itu perlu, luapkan segala emosi didalam hatimu, bahagialah jika kau ingin. Karna mulai sekarang, lampiaskan saja semua beban didalam hati dan pikiranmu. Luapkan saja apa yang sedang kau rasakan kapanpun dan dimanapun kau mau. Karna aku sekarang akan terus bersamamu. Jadi jangan mencoba menutup diri lagi seperti sebelumnya. Aku tidak apa-apa, jika jadi bahan pelampiassanmu. Asalkan aku bisa bersamamu selalu, aku tidak masalah. Karna aku sudah terlanjur mencintaimu nara" kata-kata jungkook kali ini benar-benar membuatku lega dan tenang.
Mungkin mulai saat ini, aku akan mencoba mempercayainya. Mungkin juga aku akan mencoba membuka hatiku sepenuhnya untuk seorang namja bernama JEON JUNGKOOK.
Fin~
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar